TUGAS
PORTOFOLIO
EKONOMI
PENDIDIKAN
Diajukan untuk memenuhi
tugas akhir mata kuliah Ekonomi Pendidikan
Dosen pengampu : Maria
Dominika Niron, M.Pd

Disusun oleh :
Nama : Riski Yuliani
NIM : 12101241041
PRODI
MANAJEMEN PENDIDIKAN
JURUSAN
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2014
|
A.
Contoh
Permasalahan Pendidikan di Indonesia
Masalah
adalah sesuatu yang dirasakan secara luas oleh masyarakat (fenomena).
Salah
satu contoh masalah pendidikan di Indonesia yang dirasakan secara luas oleh
masyarakat adalah masalah tawuran pelajar. tawuran pelajar dirasakan oleh
masyarakat luas , karena biasanya tawuran pelajardilakukan di luar sekolah.
Kedua belah pihak yang bertawuran sering merusak fasilitas umum di tempat
tawuran, mengganggu aktivitas dan lalu lintas, membahayakan orang yang lewat
atau tinggal di sekitar lokasi, sehingga meresahkan masyarakat. Dampak negatif tawuran
pelajar jelas saja tidak hanya dirasakan oleh siswa, sekolah, dan orangtua,
tetapi juga masyarakat sekitar.
Contoh
yang kedua adalah belum maratanya pendidikan di Indonesia. Daerah – daerah
tertinggal mutu pendidikannya masih dibawah standar. Penyaluran dana pendidikan
tidak merata. Hal ini juga berdampak pada masyarakat luas, karena orang – orang
di daerah tertinggal akan selalu di bawah orang – orang yang mengenyam
pendidikan di kota.
B.
Pemecahan
Masalah Pendidikan di Indonesia
Upaya pemecahan masalahnya, jika dilihat dari segi manajemen,
yaitu manajemen peserta didik. Manajemen Peserta Didik adalah layanan yang memusatkan
perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar
kelas seperti pengenalan, pendaftaran, dan layanan individual seperti
pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.
Manajemen Peserta Didik juga
dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari
peserta didik masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.
Tujuan dari manajemen peserta didik sendiri yaitu untuk mengatur kegiatan
– kegiatan peserta didik guna menunjang proses pembelajaran di sekolah agar
berjalan lancar , tertib, dan terartur sehingga tercapai tujuan pembelajaran
yang efektif dan efisien. Sedangkan fungsi dari manajemen peserta didik sendiri
adalah sebagai wahana peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin
, baik mengenai segi – segi individualismenya , segi sosial , dan segi
potensial peserta didiknya.
Untuk
mengatasi masalah tawuran pelajar di atas, siswa dapat diberi arahan tentang
tat tertib, dan perilaku ketika Masa Orientasi Siswa, kemudian peran guru BK
juga sangat penting di sini untukmengawasi, mengontrol, dan menuntun siswa agar
tidak bertindak melanggar tata tertib dan peraturan di sekolah. Siswa dapat
diberi sanksi, mulai dari yang paling ringan hingga yag paling berat.
Dalam mengatasi masalah yang kedua
adalah dengan meratakan pendistribusian setiap apapun yang mendukung lancarnya
pendidikan. Dapat dengan mendatangkan guru yang profesional, fasilitas yang
memadai, atau memberikan beasiswa untuk sekolah di kota.
|
A.
Faktor
Penyebab
1. Faktor
Internal
a.
Siswa tidak percaya
diri dalam menghadapi UN, sehingga saat UN siswa menjadi tidak tenang dalam
mengerjakan soal, dan mencontek jawaban teman yang belum tentu benar.
b.
Siswa kurang menguasai
materi pelajaran yang di-UN kan.
c.
Siswa kurang menjaga
kesehatan fisiknya, sehingga saat UN jatuh sakit dan mengerjakan soal tidak
dengan maksimal.
2. Faktor
eksternal
a. Sekolah
-
Fasilitas sekolah yang
kurang mendukung pembelajaran.
-
Metode dan sistem
pembelajaran di sekolah yang belum baik.
b. Guru
-
Ada guru mata pelajaran
yang sama akan tetapi tidak seragam dalam penyampaian materi, sehingga membingungkan
siswa.
-
Metode guru dalam
mengajar tidak disenangi siswa, sehingga menyebabkan siswa takut, malas, dan
tidak termotivasi untuk elajar.
c. Keluarga
-
Keadaan ekonomi
keluarga yang pas-pasan, sehingga anak putus asa dalam melanjutkan sekolahnya.
-
Kurangnya motivasi dan
perhatian dari orangtua dan keluarga, sehingga anak tidak ada yang mengawasi
dalam belajar, dan tidak bersemangat untuk belajar.
d. Lingkungan
dan teman
-
Lingkungan yang tidak
mendukung kenyamanan siswa dalam belajar.
-
Teman yang memberi
contoh tidak baik. Contohnya teman yang sukanya bermain dan tidak pernah
belajar, menyebabkan siswa terpengaruh dengan temannya ini.
B.
Pemecahan
Masalah
Dari
beberapa penyebab di atas, saya mencoba mencari pemecahan atau upaya untuk
mengatasinya.
1. Upaya
mengatasi masalah yang disebabkan faktor internal
Untuk memupuk rasa percaya diri pada
siswa, seharusnya orangtua maupun pihak sekolah memberikan motivasi. Dari pihak
orangtua, orangtua dapat memberi motivasi dengan iming-iming hadiah, maupun
perhatian setiap saat agar siswa senantiasa giat belajar. Sedangkan dari
sekolah, motivasi dapat diberikan oleh guru di sela-sela pembelajaran maupun
mengadakan acara untuk siswa dengan mengundang seorang motivator, biasanya
berlangsung bersamaan dengan acara doa bersama sebelum UN.
Siswa
yang kurang percaya diri dalam menghadapi UN juga dapat disebabkan oleh belum
terkuasainya materi UN. Untuk itu ada beberapa upaya yang dapat dilakukan
seperti memberikan intensiv belajar lebih awal. Sekolah biasanya mengadakan les
3 bulan sebelum UN, agar dapat mendalami materi maka dapat dilakukan lebih awal
yaitu di awal semester siswa memasuki kelas 3. Intensiv berlajar ini dilakukan
pada jam ke-nol dan siang atau sore setelah jam pembelajaran berakhir. Dalam
program ini, siswa diberikan modul dari sekolah berupa ringkasan materi yang
sesuai dengan SKL UN beserta soal try out UN. Untuk mendukung kegiatan
pembelajaran di sekolah, maka sekolah juga dapat bekerjasama dengan lembaga
bimbingan belajar yang kiranya bagus untuk mengadakan try out secara berkala disertai
dengan pembahasan oleh tentor setelah usai try out.
Kadang
siswa kurang menguasai materi karena guru yang tidak seragam dalam penyampaian
materi. Seperti pengalaman saya waktu SMA kelas 3, guru ekonomi di sekolah saya
ada 3, tetapi dalam menyampaikan materi yang sama apa yang mereka sampaikan
berbeda-beda. Saat menjelang UN pun siswa masih banyak yang dibingungkan oleh
guru yang memberikan jawaban berbeda-beda pada salah satu contoh soal. Hal ini
tentu membuat siswa bingung, kadang siswa lebih percaya pada tentor di lembaga
bimbingan belajar yang mereka ikuti. Namun untuk siswa yang tidak ikut bimbel
akan tetap merasa bingung, untuk itu sebaiknya para guru berkumpul dulu untuk
membahas materi UN yang akan diberikan kepada siswa, serta merundingkan contoh
soal-soal try out beserta jawabannya.
Untuk
masalah kesehatan, ini juga merupakan masalah yang disebabkan karena kurangnya
perhatian orangtua, maupun karena faktor diri sendiri yang terlalu pusing
memikirkan UN, dan memaksa dirinya untuk terus belajar tetapi tanpa istirahat,
biasanya belajar sampai larut malam, sedangkan dari pagi sampai sore belajar
juga di sekolah maupun tempat bimbingan belajar. Jika memungkinkan, datangkan
orangtua siswa untuk membahas mengenai peran orangtua dan guru dalam memotivasi
siswa.
2. Upaya
mengatasi masalah yang disebabkan faktor eksternal
Yang
pertama adalah faktor sekolah, yaitu kondisi fisik sekolah yang kurang mendukung
proses belajar mengajar. Oleh karena itu, untuk mengatasinya tentunya dengan
melengkapi fasilitas yang belum ada, dengan memprioritaskan fasilitas mana yang
paling urgent untuk digunakan dan
memperlancar proses pembelajaran. Kemudian untuk mengatasi masalah sekolah yang
kedua, yaitu dengan mengadakan rapat evaluasi yang membahas mengenai sistem
pembelajaran di sekolah. Sebenarnya tidak untuk masalah ini, untuk masalah yang
lain pun dapat dengan melakukan evaluasi untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran
selanjutnya. Agar siswa merasa senang dengan metode pembelajaran yang digunakan
sekolahnya, sekolah harus dapat menemukan inovasi baru, mungkin dengan
mengotak-atik jadwal sekolah.
Untuk
masalah guru yang pertama sudah dibahas dalam upaya mengatasi masalah karena
faktor internal. Kemudian untuk masalah yang kedua, guru harus bisa menarik
perhatian dan minat belajar siswa dengan cara mengajar yang bervariasi. Apabila
biasanya mengajar dengan menggunakan whiteboard, dapat diganti dengan slide
presentasi. Guru juga harus bersikap ramah, menyemangati, dan membantu siswa
yang keseulitan dengan sabar.
Kemudian
mengenai masalah keluarga, pihak sekolah bisa mengeinformasikan kepada siswa
sekaligus orangtua siswa bahwa masalah ekonomi sangat bisa diatasi. Biasanya masalah
ini ditangani oleh guru BK. Guru BK dapat menjelaskan satu-satu mengenai
beasiswa untuk melanjutkan studi. Jika memungkinkan pula, datangkan orangtua
siswa untuk membahas mengenai peran orangtua dan guru dalam memotivasi siswa.
Yang
terakhir masalah lingkungan dan teman, masalah ini juga tidak luput karena
disebabkan kurangnya perhatian orangtua. Anak dibiarkan bebas, dan tidak
diawasi. Hal ini benar, karena orangtua tidak mengekang anak untuk tidak
melakukan sesuatu. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika orangtua mampu
meluangkan waktunya untuk mengawasi belajar anak.
|
A.
Kriteria
Ekonomik
Kriteria adalah sesuatu yang harus
dipenuhi atau harus dicapai, oleh sebab itu kriteria harus ditetapkan karena
sebagai acuan pada apa yang harus dicapai itu.
Kriteria digunakan sebagai ukuran atau
tolok ukur keberhasilan suatu proses kerja, atau dengan kata lain dapat
dikatakan sebagai sesuatu yang dijadikan ukuran dalam menentukan tingkat
ketercapaian suatu proses kerja. Oleh karena itu, segala sesuatu yang menjadi
kriteria haruslah riil/ konkret, dan dapat diukur.
Kriteria ekonomik merupakan standar (ukuran)
ekonomik yang dipakai sebagai pertimbangan dalam penentuan tingkat ketercapaian
atau keberhasilan (efektivitas dan efisiensi) dari suatu proses atau kegiatan.
Tahap menetapkan kriteria ekonomi adalah
pada bagian perencanaan. Bagian perencanaan tersebut merupakan bagian pada saat
menetapkam 5W+ 1H. Untuk How (H) dapat
diketahui setelah menetapkan 5 W. Sebelum menetapkan 5W + 1H, sebelumnya harus
tahu terlebih dagulu tujuan yang akan dicapai. Menganalisis kriteria ekonomik
yaitu dengan memandang keefisienan dan keefektivan hasil, waktu, dan biaya yang
digunakan.
B.
Kriteria
Ekonomik dalam Manajemen Pendidikan
Lembaga pendidikan adalah pengasil
seuatu produk, karena lembaga pendidikan dipandang mampu menghasilkan produk
baik, dengan menggunakan manajemen atau pengaturam supaya mencapai hal
tersebut. Karena menghasilkan suatu produk, maka pendidikan dipandang sebagai
suatu lembaga ekonomi. Dalam kegiatan manajemen pendidikan inilah kriteria
ekonomi berfungsi. Kriteria ekonomi bermanfaat untuk menekan waktu dan biaya
secara efektif dan efisien untuk mengasilkan produk di lembaga pendidikan.
Produk merupakam output atau hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan. Kriteria
ekonomi ini digunakan dalam manajemen pendidikan untuk mengatur keefektifan dan
keefesienan penggunaan input untuk mencapai tujuan dari lembaga pendidikan. Kriteria
ekonomik diperlukan dalam pendidikan karena dalam penyelenggaraan pendidikan
harus mencapai hasil tertentu, seperti mencapai kecerdasan , keterampialan,
atau pemebentukan sikap tertentu. Dalam manajemen pendidikan, memanage
pendidikan dikatakan berhasil apabila perencanaan yang memuat tujuan sesuai
dengan hasil yang telah dicapai. Hal ini dapat dilihat melalui evaluasi program
lembaga pendidikan tersebut, apabila kriteria ekonomi digunakan dengan baik
maka output lembaga pendidikan juga dapat dikatakan baik.
|
A.
Konsep
Pendidikan Dipandang Sebagai Barang
Pendidikan merupakan suatu hal yang
penting, karena pendidikan sebagai usaha sadar bagi
pengembangan manusia dan masyarakat, mendasarkan pada landasan pemikiran
tertentu. (Dwis Siswoyo dkk, 2011 : 1)
Pendidikan dianggap sebagai barang
karena pendidikan merupakan kebutuhan manusia. Manusia akan lemah dan
ketinggalan zaman apabila tidak mengenyam pendidikan. Dalam ekonomi, kebutuhan
manusia dapat berwujud barang maupun jasa. Pendidikan juga menghasilkan sesuatu
berupa kemampuan, pengetahuan, dan pembentukan sikap. Akan tetapi hasil
pendidikan tidak dapat dimanfaatkan seketika itu, karena hasil pendidikan
berguna pada jangka panjang.
Konsep pendidikan dari
sisi ekonomi (filosofi) :
1.
Pendidikan merupakan
salah satu kebutuhan dasar manusia
2.
Metafor jual beli :
untuk memenuhinya diperlukan lembaga pendidikan yang memberikan (menjual) jasa
layanan.
3.
Metafor proses
produksi, penyelenggaraan/ proses layanan pendidikan pada lembaga pendidikan
harus menghasilkan produk
4.
Pendidikan = barang
Pemanfaatan barang
sendiri dibedakan menjadi berikut :
1.
Barang normal
2.
Barang superior
3.
Barang inferior
Barang
atau pendidikan merupakan kebutuhan manusia, kebutuhan manusia sendiri sifatnya
tidak terbatas, karena manusia tidak pernah merasa puas. Seperti halnya dalam
dunia pendidikan, manusia akan selalu membutuhkan pendidikan, misalnya, manusia
akan selalu ingin melanjutkan pendidikan di jenjang selanjutnya. Saat
pendaftaran mahasiswa baru, Perguruan Tinggi favorit akan mempunyai pendaftar
yang sangat melebihi batas kursi yang ditawarkan. Ini membuktikan bahwa
kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia itu
terbatas. Oleh karena itu, barang berupa pendidikan itu harus dijaga dan
ditingkatkan terus mutu dan kualitasnya agar tetap laku.
B.
Proses
Manajemen Pendidikan jika Pendidikan Dipandang Sebagai Barang
Seperti yang telah dijelaskan di atas
bahwa pendidikan adalah suatu barang, karena pendidikan merupakan kebutuhan
manusia. Dan salah satu alat pemuas kebutuhan manusia adalah barang.
Dalam setiap kegiatan manajemen,
termasuk manajemen pendidikan selalu didasari oleh fungsi manajemen berupa
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan terakhir
evaluasi. Dengan menerapkan fungsi manajemen tersebut, suatu kegiatan
diharapkan dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Karena pendidikan dipandang sebagai
suatu barang, maka proses manajemennya adalah dengan strategi bagaimana menggunakan
barang tersebut dengan efektif dan efisien sehingga mencapai hasil atau ouput
yang diharapkan. Yang mempengaruhi tuntutan kebutuhan pendidikan adalah harga,
pilihan pendidikan, harga barang lain (jasa-jsa pendidikan), kesempatan kerja,
dan sebagainya. Upaya yang harus dilakukan adalah memanage bagaimana agar
barang (pendidikan) ini tetap laku, atau selalu dibutuhkan manusia. Strateginya
dapat dengan selalu meningkatkan kualitas barang (mutu pendidikan),
memperhatikan harga barang (biaya pendidikan) dengan kualitas pendidikan yang
didapat oleh pembeli (peserta didik), memanage bagaimana agar produk
(pendidikan) ini tetap mampu bersaing dengan produk lain dan mampu bersaing di
dunia kerja.
Kemudian menurut teori kebutuhan, bahwa
kebutuhan manusia itu selalu meningkat sedangkan sumber dayanya terbatas, maka
dengan manajemen pendidikan, suatu lembaga pendidikan dapat mengelola bagaimana
agar input atau sumber daya pendidikan ini tetap ada dengan mutu yang
berkualitas, input ini dapat berupa peningkatan kompetensi guru dengan
mengingutkannya pada diklat maupun ketersediaan dan kualitas dari fasilitas
yang ada di lembaga pendidikan. Dengan tersedianya kebutuhan yang memadai,
manusia akan senantiasa untuk berusaha mengoptimalkan sumer daya tadi. Yang
terkahir, kebutuhan manusia memang banyak macamnya, slah satunya adalah
pendidikan. Jadi, pendidikan harus dikelola dengan baik menggunakan manajemen
yang baik agar kebutuhan manusia senantiasa terpenuhi.
Daftar pustaka :
Dwi Siswoyo, dkk. 2011.
Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY
Press
|
A.
Nama
Program
Ektrakurikuler Pramuka
B.
Bagaimana
Programnya ?
Produk
dari program pendidikan kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMA adalah :
1. Pengamalan
Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka pada peserta didik .
Berdasar
pengamalan di atas, siswa menjadi :
a. Anggotanya
menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta tinggi mental,
moral, budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya.
b. Anggotanya
menjadi manusia yang tinggi kecerdasan dan keterampilannya.
c. Anggotanya
menjadi manusia yang kuat dan sehat fisiknya.
d. Anggotanya
menjadi manusia yang menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia
dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga menjadi angota
masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelenggarakan
pembangunan bangsa dan negara.
2. Anggotanya
dapat menjadi Dewan Ambalan dengan ilmu yang dia dapatkan, yang digunakan untuk
mendidik adik angkatan pada kegiatan pramuka tahun selanjutnya.
C.
Sifat
Program
Sifat
program ekstrakurikuler Pramuka ini adalah sekunder. Karena program ini
bersifat melengkapi program utama yaitu kegiatan belajar mengajar. Program ini
bersifat wajib bagi seluruh peserta didik yang duduk di kelas X. Program ini diwajibkan karena mengacu pada
penerapan kurikulum 2013 yang bertema pendidikan karakter.
D.
Strategi
Manajerial dari Program Ekstrakurikuler Pramuka
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam inovasi
manajemen kegiatan ekstrakurikuler pramuka adalah sebagai berikut:
1. Pertama,
program kegiatan hendaknya disusun melalui rapat dewan guru bersama kepala
sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan. Program yang
direncanakan secara mendetil, dijabarkan dalam program kegiatan semester,
kegiatan bulanan dan kegiatan mingguan, berikut tanggal pelaksanaan dan target
pencapaiannya.
2. Kedua,
pelaksanaan latihan pramuka mengacu kepada progam yang telah disusun sesuai
dengan periode tertentu. Latihan minimal dilaksanakan sekali seminggu ditambah
dengan waktu lain sesuai dengan kesepakatan anggota, khusus untuk persiapan
melaksanakan kegiatan atau perlombaan latihan lebih diintensifkan lagi.
3. Ketiga,
pembina pramuka dipilih dari tenaga pendidik atau tenaga kependidikan yang
benar-benar memiliki kecakapan khusus tentang kepramukaan serta memiliki
loyalitas yang tinggi terhadap keberlangsungan kegiatan melalui rapat setiap
awal tahun pelajaran.
4. Keempat,
untuk mengembangkan ide kreatif dan inovatif dalam mengelola organisasi
pramuka, hendaknya pembina pramuka diberikan kewenangan dan tanggung jawab
sepenuhnya.
5. Kelima,
memiliki kelengkapan administrasi gerakan pramuka seperti buku induk, buku
tamu, buku inventaris, buku risalah rapat/pertemuan, buku keuangan dan iuran,
buku ekspedisi, buku kegiatan/latihan, buku harian, log book, agenda surat dan
buku sejarah dan perkembangan kegiatan.
6. Keenam,
pembina diwajibkan membuat laporan secara berkala setiap satu semester yang
ditujukan kepada kamabigus.
7. Ketujuh,
pihak sekolah komitmen terhadap penyediaan sarana dan prasarana termasuk
pembiayaan untuk kegiatan ekstrakurikuler pramuka yang terus meningkat setiap
tahunnya.
8. Kedelapan,
dalam hal pengelolaan anggota, pembina diharapkan membentuk lebih dari satu
regu inti untuk putra dan putri. Hal ini dimaksudkan agar memperbesar peluang
anggota untuk dapat terpilih dalam regu inti, dengan demikian motivasi dan
semangat berkompetisi antar anggota semakin meningkat.
|
A.
Konsep
Efisiensi dan Efektivitas
Efisiensi dimaknai sebagi berdaya guna.
Efisiensi adalah cara yang dipakai untuk mencapai tujuan atau hasil, dengan
memperhatikan seberapa banyak sumberdaya yang dipakai. Efisiensi itu penting,
karena dengan efisiensi maka kegiatan manajemen dapat berhasil.
Kegiatan manajemen itu sendiri digunakan
untuk mewujudkan tujuan atau hasil. Sedangkan untuk mencapai hal tersebut,
manusia perlu menggunakan sumberdaya. Tetapi, seperti yang kita ketahui bahwa
keberadaan sumber daya sendiri terbatas, sehingga perlu diperhitungkan
penggunaannya dalam pekerjaan atau kegiatan. Disinilah efisiensi menjadi kontrol
atau cara kerja untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan, karena efisiensi
sendiri emrupakan ukuran dalam mencapai hasil.
Selain efisiensi, juga diperlukan
efektivitas. Efektivitas merupakan tingkat ketercapaian antara harapan dengan
tujuan. Untuk melihat apakah suatu pekerjaan itu efektif dan efisian, dapat
dilakukan dengan evaluasi. Karena evaluasi sendiri berfungsi untuk melihat
kesesuaian antara harapan atau perencanaan dengan tujuan.
B.
Menentukan
Tingkat Efisiensi dan Efektivitas dari Suatu Cara Kerja Lembaga
Ketika suatu lembaga akan membuat
kegiatan atau program kerja, pasti menggunakan manajemen, dimulai dari planning dan seterusnya. Untuk
menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas dari suatu cara kerja lembaga
dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah. Langkah yang pertama adalah
dengan menentukan tujuan, suatu kegiatan pasti dimulai dengan perencanaan. Di
dalam perencanaan, kita menentukan tujuan dan visi misi dari diselenggarakannya
kegiatan. Setelah tujuan terumuskan, yang kedua adalah menentukan cara kerja.
Pilih cara kerja yang tepat (efektif dan efisien) untuk mencapai tujuan/ hasil.
Dengan mengetahui cara kerja, maka dapat menggunakan efisiensi dan efektivitas
tadi. Efisiensi dapat dilihat dari sumber daya yang dipakai untuk mencapai
hasil efisien, tentunya dengan melihat cara kerja yang ditentukan, lembaga
dapat mencari sumber daya yang harus dipakai dalam setiap cara kerja yang
dirumuskan. Sumberdaya yang dimaksud dapat berupa bahan, alat, dan waktu.
Kemudian dengan mengetahui cara kerja pula, suatu lembaga dapat melihat
keefektivitasannya, karena dengan menentukan cara kerja dapat diprediksi
gambaran hasil dari cara kerja tersebut.
Ukuran efisien dalam bidang pendidikan
dapat dilihat dari berbagai parameter suasana dari proses pendidikan, yakni:
o
Waktu / biaya sedikit.
Makin singkat waktu yang dibutuhkan untuk proses pendidikan dan biaya sedikit
maka proses pendidikan makin efisien.
o
Etos kerja yang
tinggi. Etos kerja yang tinggi di kalangan pengelola pendidikan, maka proses
pendidikan makin efisien.
o
Komitmen tinggi.
Demikian pula komitmen yang tinggi dari pengelola pendidikan, maka kegiatan
pendidikan makin baik.
o
Dipercaya banyak pihak.
Yang tak kalah penting, lembaga pendidikan dikatakan efisien apabila mendapat
kepercayaan dari banyak pihak.
Untuk
melihat tingkat efisiensi dan efektivitas dari cara kerja tersebut, dapat
dilihat dengan hasil cara kerja sebagai rujukannya. Dari hasil tersebut
dilakukan penilaian terhadap cara kerja. Terdapat dua penialaian yaitu
penilaian penilaian terhadap hasil apakah sudah mencapai sebagaimana diharapkan
(efektif). Yang kedua adalah penilaian mengambarkan apakah cara kerja yang
dilakukan dengan baik menggunakan sumberdaya seperti yang diharapkan sampai mencapai hasil yang diharapkan (efisien).
Untuk pengukuran efisiensi internal dapat melihat hasil (output) dan cara kerja, sedangkan yang internal dengan melihat outcome (masyarakat).
|
A.
Konsep
Pendekatan Ekonomik dan Pendekatan Manajerial
Salah satu upaya untuk mencapai
efisiensi adalah dengan pendekatan ekonomik dan pendekatan manajerial.
Pendekatan ekonomik berorientasi pada strategi mengatur atau menggunakan
sumberdaya/ input dalam proses manajemen. Pendekatan ekonomik sering disebut
dengan pendekatan alokatif. Cara yang dipakai dalam pendekatan ekonomik antara
lain adalah realokasi input, yaitu dengan penggunaan kembali input yang bisa
dipakai berulang.
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan
manajerial, pendekatan manajerial berkaitan dengan proses manajemen yang
dilakukan. Cara yang dilakukan dalam pendekatan manajerial adalah dengan
manipulasi managemen, yaitu suatu strategi manajemen yang dilakukan atau suatu
prosedur kerja yang dilakukan.
Konsep dasar dalam
efisiensi ekonomik :
1. Dalam
setiap proses produksi selalu ada fixed
input (input yang pasti)
2. Suatu
produk dapat dihasilkan melalui kombinasi input
3. Suatu
produk dapat dihasilkan melalui realokasi input
B.
Contoh
Implementasi Pendekatan Ekonomik dan Pendekatan Manajerial
1. Contoh
pendekatan ekonomik
a. Penggunaan
buku-buku milik kakak kelas. Agar menghemat biaya serta mampu merealokasi suatu
input di sekolah. Maka diberi buku –buku yang sudah lama dibeli tetapi masih
bisa digunakan, tidak membeli kembali.
b. Guru
TIK menjadi teknisi. Dikarenakan kurikulum 2013 menghapus pelajaran TIK, maka
guru TIK di sekolah dapat dimanfaatkan sebagai teknisi komputer, selain itu
dapat pula mengajarkan guru-guru yang sudah tua untuk menggunakan TIK sebagai
alat untuk mengajar. Hal ini juga dapat dimasukkan dalam pendekatan manajerial.
2. Contoh
pendekatan manajerial
a. Ketika
suatu SD direnovasi sebagian, tentunya sekolah tersebut akan mengalami
kekurangan ruang kelas. Agar pembelajaran tetap berjalan, maka digunakanlah
sistem pergantian kelas, dimana siswa kelas 1, 2, dan 3 masuk pada pagi hari,
kemudian bergantian dengan kelas 4, 5, dan 6 yang masuk pada siang hari.
b. Pembuatan
asrama bagi mahasiswa rantau.
c. Dalam
suatu sekolah, dibangun lapangan doblefungsi untuk efisiensi. Yaitu sebuah
lapangan yang dapat dimanfaatkan untuk dua bentuk atau jebis olahraga.
Misalnya, lapangan basket dan lapangan futsal yang digabung menjadi satu. Hal
ini dilakukan untuk menghemat biaya dan tempat. Walaupun demikian, sekolah
tetap menyediakan lapangan serbaguna
No comments:
Post a Comment