PESERTA
DIDIK
I.
Pengertian
Peserta Didik
Peserta
didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri
melalui proses pendidikan.
II.
Peserta
Didik sebagai Pesona
Peserta
didik adalah subyek yang otonom, memiliki motivasi, hasrat, ambisi, ekspresi,
cita-cita, mampu merasakan kesedihan, bisa senang dan bisa marah, dan
sebagainya.
Ciri khas peserta didik
menurut Umar Tirtaraharja dan La Salulo (1994):
1) Individu
yang memiliki potensi fisik dan psikhis yang khas, sehingga merupakan insan
yang unik karena sejak lahir telah memiliki potensi-potensi yang berbeda dengan
individu lain yang ingin dikembangkan dan diaktualisasikan
2) Individu
yang berkembang, yakni selalu ada perubahan dalam diri peserta didik secara
wajar
3) Individu
yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi, brarti bahwa
manusia membutuhkan bantuan dan bimbingan dari pihak lain sesuai kodrat
kemanusiaannya
4) Individu
yang memiliki kemampuan untuk mandiri, berarti bahwa dalam diri anak ada
kecenderungan untuk memerdekakan diri.
III.
Pertumbuhan
dan Perkembangan Peserta Didik
1) Pertumbuhan
peserta didik diartikan sebagai bertambahnya tinggi badan, berat badan, semakin
efektifnya fungsi-fungsi otot tubuh dan organ fisik, organ panca indera,
kekekaran tubuh, dan lain-lain yang menyangkut kemajuan aspek fisik.
2) Perkembangan
diartikan sebagai semakin optimalnya kemajuan aspek psikhis peserta didik
seperti kemampuan cipta, rasa, karsa, karya, kematangan pribadi, pengendalian
emosi, kepekaan spiritualitas, keimanan dan ketaqwaan.
3) Usia Perkembangan menurut Sutari Imam Barnadib :
a. Usia
kronologis
b. Usia
kejasmanian
c. Usia
anatomis
d. Usia
kejiwaan
e. Usia
pengalaman
4) Tahap-Tahap Perkembangan Menurut Charlotte Buhler :
a. Masa
permulaan
b. Masa
penanjakan sampai kira-kira umur 25 tahun
c. Masa
puncak masa hidup, pada umur 25 sampai 50 tahun
d. Masa
penurunan dan menarik diri dari kehidupan masyarakat
e. Masa
akhir kehidupan
5) Lima Asas Perkembangan Peserta Didik Menurut Sutari
Imam Barnadib :
a. Tubuhnya
selalu berkembang sehingga semakin lama dapat menjadi alat untuk menyatakan
kepribadiannya
b. Anak
dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya, hal ini menyebabkan dia terikat kepada
pertolongan orang dewasa yang bertanggung jawab
c. Anak
membutuhkan pertolongan dan perlindungan serta membutuhkan pendidikan untuk
kesejahteraan anak didik
d. Anak
mempunyai daya berekspresi, yaitu kekuatan untuk menemukan hal-hal baru di
dalam lingkungannya dan menuntut pendidik untuk memberi kesempatan kepadanya
e. Anak mempunyai dorongan untuk mencapai
emansipasi dengan orang lain
6) Teori perkembangan peserta didik
a. Nativisme
yaitu teori yang berorientasi biologis secara klasik
b. Empirisme
yaitu teori yang berorientasi pengalaman
c. Naturalisme
yaitu teori yang menyatakan bahwa penentu perkembangan adalah alam
d. Interaksionisme
(konvergensi) yaitu teori yang berorientasi pada interaksi
IV.
Teori Perkembangan Fisik
Peserta Didik
Menurut
Gasell dan Ames serta Illingsworth :
1) Perkembangan
fisik meliputi berat badan, tinggi badan termasuk perkembangan motorik
2) Pengembangan
fisik anak dalam pendidikan mencakup kekuatan, ketahanan, kecepatan, kecekatan,
dan keseimbangan.
Delapan pola umum perkembangan motorik peserta didik
1)
Continuity
(keberlanjutan), yaitu suatu perkembangan yang dimulai dari yang sederhana ke
arah yang lebih kompleks sejalan dengan bertambahnya usia anak
2)
Uniform sequence
(kesamaan tahapan), yakni suatu perkembangan yang memiliki tahapan sama untuk
semua anak, meskipun kecepatan tiap anak untuk mencapai tahapan tersebut
berbeda
3)
Maturity
(kematangan), yakni suatu perkembangan yang ada pada peserta didik yang
dipengaruhi oleh perkembangan sel syaraf telah terbentuk semenjak anak lahir
meskipun proses mielinasinya masih terus berlangsung sampai beberapa tahun
kemudian
4)
From general to
spesific process (proses dari umum ke
khusus), yakni suatu perkembangan yang dimulai dari gerak yang berisfat umum
kepada gerak yang bersifat khusus
5)
Dari
gerak refleks bawaan ke arah terkoordinasi,
yakni suatu perkembangan yang dimiliki peserta didik yang dimulai dari gerak
refleks bawaan yang dibawa sejak lahir ke dunia kepada aneka gerak yang
terkoordinasi dan bertujuan
6)
Chepalo-caudal
direction, yakni suatu perkembangan yang ditandai
dengan bagian yang mendekati kepala berkembang lebih cepat daripada bagian yang
mendekati ekor
7)
Proximo-distal,
yakni suatu perkembangan yang ditandai dengan bagian yang mendekati sumbu tubuh
berkembang lebih dahulu daripada yang lebih jauh
8)
From bilateral to
crasslateral coordinate , yakni suatu
perkembangan yang dimulai dari koordinasi organ yang sama berkembang lebih
dahulu sebelum bisa melakukan koordinasi organ bersilangan
V.
Teori
Perkembangan Biologis Peserta Didik
Teori
ini banyak dikemukakan oleh para ahli seperti Aristoteles, Kretsmer, dan Sigmud
Freud.
1) Aristoteles
dan Kretsmer melihat perkembangan peserta didik lebih pada tahap-tahap
perkembangan fisik
2) Sigmud
Freud melihat pengaruh perkembangan peserta didik terhadap tahap-tahap
perubahan perilaku libido seksual (psikoseksual).
Perkembangan peserta
didik menurut Sigmud dimulai dari sejak lahir sampai kira-kira umur 5 tahun
melewati fase yang teridentifikasi secara dinamik. Selanjutnya berkembang
sampai umur 12/13 tahun mengalami masa stabil yaitu fase laten. Dinamika mulai
bergejolak ketika masa pubertas datang sampai umur 20 tahun, kemudian berlanjut
pada masa kematangan.
VI.
Teori
Perkembangan Intelektual Peserta Didik
Salah
satu teori yang terkenal dikemukakan oleh Jean Piaget (1896-1980)
Piaget
mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai
tingkatan perkembangan proses berpikir formal. Menurut teori ini, perkembangan
intelektual peserta didik melalui tahap-tahap, dan setiap tahap perkembangan
dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.
Menurut Jean Piaget, pengetahuan
yang didapat oleh peserta didik dibangun melalui proses asimilasi &
akomodasi .
Perkembangan
intelektual peserta didik berlangsung dalam empat tahap, yaitu :
1)
Tahap sensori motor
2)
Tahap pra-operasional
3)
Tahap operasional
kongkrit
4)
Tahap operasional formal
VII.
Teori
Perkembangan Sosial Peserta Didik
Salah
satu tokoh yang merumuskan teori perkembangan sosial peserta didik adalah Erik
Erikson, yang membagi tahap perkembangan menjadi 8, yaitu :
1) Umur
0,0 – 1,0 tahun, fase
perkembangan Trust vs Mistrust
2) Umur
2,0 – 3,0 tahun, fase perkembangan Autonomy vs Shame
3) Umur
4,0 – 5,0 tahun, fase perkembangan Inisiative vs Guilt
4) Umur
6,0 – 11, 0 tahun, fase perkembangan Industry vs Inferiority
5) Umur
12,0 – 18/ 20 tahun, fase perkembangan Ego-identity vs Role on Fusion
6) Umur
18/19 – 30 tahun, fase perkembangan Intimacy vs Isolation
7) Umur
31 – 60 tahun, fase perkembangan Generativity vs Stagnation
8) Umur
60 ke atas tahun, fase perkembangan Ego Integrity vs Putus asa
VIII.
Teori
Perkembangan Mental Peserta Didik
Tokoh pencetusnya adalah Lev Vygotsky,
berpendapat bahwa apa yang diketahui siswa bukanlah hasil kopi dari apa yang
mereka temukan di dalam lingkungan, tetapi sebagai hasil dari pikiran dan
kegiatan siswa sendiri melalui bahasa.
Lev
Vygotsky mengutarakan 2 konsep dalam pembelajaran;
1)
Zone of Proximal
Pevelopment
(ZPD)
Pembelajaran terjadi
apabila anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun
tugas-tugas itu berada dalam tingkat perkembangan sedikit diatas tingkat
perkembangan seseorang saat itu.
2) Scaffolding
Memberikan kepada siswa
sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian
mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut
mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat
melakukannya.
IX.
Teori
Perkembangan Moral Peserta Didik
Istilah
moral berasal dari bahasa Latin mores
yang berarti adat istiadat, kelakuan tabiat , akhlak, ajaran tentang kesusilaan
dan tata cara dalam kehidupan.
John Dewey membagi perkembangan moral peserta
didik menjadi 3 tahap perkembangan :
1)
Premoral
Tingkah
laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial.
2)
Conventional
Seseorang
mulai bisa menerima nilai dengan sedikit kritis berdasarkan kepada kriteria
kelompoknya.
3)
Autonomous
Seseorang
mulai bisa berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan
pertimbangan dirinya.
Jean Piaget membagi tahap-tahap
perkembangan peserta didik menjadi 3 tahapan;
1) Non-morality
Tahapan
dimana anak belum memiliki atau belum mengenal moral. Tahapan ini usia anak
masih dibawah 4 tahun.
2)
Heteronomous
Dimana
anak sudah mulai meneriam dan memiliki aturan begitu saja dari orang lain yang dipandang tidak bisa diubah.
3)
Autonomous
Dimana
pada tahap ini peraturan dipandang sebagai persetujuan bersama secara timbal
balik, dapat dipelihara dan diubah sesuai kebutuhan kolektif.
X.
Tipologi
Kepribadian Peserta Didik
Untuk menganalisa kepribadian peserta
didik, Henry Alexander Muray mengemukakan suatu teori “Thematic Apperception Test”(TAT), yaitu metode penyelidikan melaui
alam bawah sadar seseorang.
Henry Alexander Muray membagi tipe
kepribadian peserta didik khususnya anak usia dini menjadi beberapa macam,
yaitu:
1)
Autonomy,
yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan keingan melakukan
sesuatu secara sendiri, tidak senang dibantu orang lain, tidak senang
disuruh-suruh.
2)
Affiliation,
yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan senang bersama anak
lain, suka bersahabat, suka memperbanyak teman, saling membutuhkan dengan teman
dan sahabatnya.
3)
Succurance,
yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan selalu manja, ingin orang
lain membantunya, ingin selalu minta tolong.
4)
Nurturrance,
yaitu tipe kepribadian peserta didik yang ditandai dengan sikap pemurah yakni
senang memberi kepada teman, senang meminjami, selalu membagi-bagi apa yang
dimiliki kepada temannya.
5)
Agression,
yaitu tie kepribadian peserta didik yang ditandai dengan sikap-sikap agresif,
mudah tersinggung dan marah, jika diganggu akan menyerang balik dengan keras
bahkan berlebihan.
6)
Dominance, yaitu tie kepribadian peserta didik yang
ditandai dengan ingin menguasai atau mengatur teman, ingin tampil menonjol,
ingin menjadi ketua kelas atau pengurus kelas.
7)
Achievement,
yaitu tie kepribadian peserta didik yang ditandai dengan semangat kerja yang
tinggi untuk berprestasi, ingin bisa melakukan suatu karya, tugas-tugas di
sekolah dikerjakan sungguh-sungguh dan cenderung tak mau dibantu.
XI.
Kecerdasan
Ganda Peserta Didik
Menurut Gardner, kecerdasan adalah
kapasitas yang dimiliki seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah dan
membuat cara penyelesaiannya dalam konteks yang beragam dan wajar. Selama ini
skala kecerdasan hanya dilihat pada skala kecerdasan tunggal, skala ini kurang
dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang.
Kecerdasan seseorang bersifat ganda yang
meliputi unsur-unsur sebagai berikut;
1)
Kecerdasan
matematik
Kemampuan
akal peserta didik untuk menggunakan angka-angka secara efektif dan berpikir
secara nalar.
2)
Kecerdasan
lingual
Kemampuan
akal peserta didik untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara
lisan maupun dalam bentuk tulisan.
3)
Kecerdasan
musikal
Kemampuan
yang dimiliki peserta didik untuk mempersepsikan, mendiskriminasikan, mengubah,
dan mengekspresikan bentu-bentuk musik.
4)
Kecerdasan
visual–spasial
Kemampuan
peserta didik untuk menangkap dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan
perubahan-perubahan terhadap persepsi tsb.
5)
Kecerdasan
kinestetik
Kemampuan
yang dimiliki peserta didik dalam menggunakan seluruh tubuhnya untuk
mengekspresikan ide dan perasaan atau menggunakan kedua tangan untuk
menghasilkan dan mentransformasikan sesuatu.
6)
Kecerdasan
interpersonal
Kemampuan
yang dimiliki peserta didik untuk mempersepsikan dan menangkap
perbedaan-perbedaan mood, tujuan, motivasi, dan perasaan-perasaan orang lain.
7)
Kecerdasan
intrapersonal
Kemampuan
menyadari diri dan mewujudkan keseimbangan mental-emosional dalam diri peserta
didik untuk bisa beradaptasi sesuai dengan dasar dari pengetahuan yang
dimiliki.
8)
Kecerdasan
natural
Kemampuan
yang dimiliki peserta didik untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya
senang berada di lingkungan alam yang terbuka.
XII.
Peserta Didik Berbakat
Setiap diri peserta didik memiliki bakat
dan minat. Bakat merupakan suatu kelebihan yang dimiliki oleh peserta didik
yang mengarah pada aneka kemampuan, sedangkan minat adalah keinginan yang
berasal dari dalam diri peserta didik terhadap obyek atau aktivitas tertentu.
Sumber : Siwoyo Dwi, dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.
No comments:
Post a Comment