MAKALAH
HAKIKAT
DAN KEGUNAAN ILMU
Diajukan untuk memenuhi
tugas mata kuliah Epistemologi dan Logika Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr.
Dwi Siswoyo

Anggota Kelompok :
1.
Dian Novitasari (10101241016)
3.
Ahmad Suwandi (12101241007)
4.
Suratno (12101241009)
5.
Riski Yuliani (12101241041)
6.
Dedi Mukhlas M. (12101241054)
PRODI
MANAJEMEN PENDIDIKAN
JURUSAN
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Ketika
kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup pula sebuah
telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama,
dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana ilmu hendak dicapai.
Telaah yang kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif
mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek
prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Telaah ketiga ialah dari
segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu
yang diperoleh.
Kita sering
mendengar kata ilmu pengetahuan, tetapi banyak orang awam yang tidak memahami
bahwa ilmu itu berbeda dengan pengetahuan. Bahkan banyak di antara mereka yang
menyamakan kedua pengertian tentang ilmu dan pengetahuan. Sampai sekarang ini banyak orang
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan bukanlah sebagai teori yang mempunyai
kegunaan praktis melainkan sekedar upaya untuk memperkaya jiwa. Kadang mereka
tidak tahu mengapa harus mempelajari ilmu itu, padahal mereka juga tidak tahu
apa kegunannya, dan apakah akan mereka gunakan suatu saat nanti. Melihat
banyaknya orang yang mempelajari ilmu, maka pada kesempatan kali ini kelompok
kami akan membahas mengenai apa sebenarnya hakikat ilmu, serta kegunaan ilmu
apabila ditelaah melalui filsafat.
B.
Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah
filsafat ilmu itu ?
2. Apa
dan bagaimanakah hakikat suatu ilmu ?
3. Apa
dan bagaimanakah kegunaan suatu ilmu ?
C.
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah :
1. Untuk
mengetahui apa itu filsafat ilmu
2. Untuk
mengetahui apa dan bagaimana hakikat suatu ilmu
3. Untuk
mengetahui apa dan bagaimana kegunaan suatu ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Filsafat
Ilmu
Filsafat
ilmu merupakan bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji
hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu berkaitan erat dengan
epistemologi dan ontologi. Filsafat Ilmu dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam
dan filsafat ilmu-ilmu social, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil
antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social dimana keduanya memiliki ciri-ciri
keilmuan yang sama.
Filsafat
ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah – masalah, seperti apa dan
bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana
konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan
serta memanfaatkan alam melalui teknologi. Filsafat ilmu juga mengkaji tentang
cara menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan
metode ilmiah, macam – macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan
kesimpulan, serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Salah
satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme atau ketergantungan
pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan
dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah
berarti harus berdasarkan dari pengamatan dan pengalaman. Hipotesa ilmiah
dikembangkan dan diuji dengan metode impiris, melalui berbagai pengamatan dan
eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang
dan mendapatkan suatu hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti
yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori – teori yang bertujuan untuk
menjelaskan fenomena alam.
B.
Hakikat Ilmu
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi
kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan
rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup
pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya
Ilmu
sekedar pengetahuan yang harus bisa dihafal, agar bisa dikemukakan waktu
berdebat : makin hafal lantas makin hebat. Pengetahuan yang dikuasai harus
mencakup bidang – bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul bisa
kita sambut. Kemampuan mengutip teori – teori ilmiah yang bersifat estetik ini
lalu berkembang menjadi status sosial.
Dewasa
ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi
dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasiatau bukan merupakan sarana
yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya namun bahkan kemungkinan
mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri serta juga menciptakan hidup itu
sendiri. Menghadapi kenyataan ini ilmu pada hakikatnya mempelajari alam
sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya.
Ontology
diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari objek yang ditelaah
dalam membuahkan pengetahuan. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Pertanyaan mengenai
hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara orang dapat mengatakan
bahwa:
1.
Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif.
Ditinjau dari pandangan ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi
yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung
pada pengalaman-pengalaman mereka.
2.
Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi
ontology, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut
merupakan esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. Pendirian ini
berpandangan bahwa ilmu memiliki hakikat“Objektivisme Logis“
3.
Nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun
kenyataan, yang kemudian disebut dengan “Objektivisme Metafisik“
Pada
prinsipnya ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan
pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam
kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan
teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian
ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain).
Hakikat
ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam kebajikan ilmu.
Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala ia keluar dari ilmu itu.
Ilmu itu bagi hati ibarat dirham-dirham dan dinar-dinar di tangan.
Bisa bermanfaat bagimu bisa pula membahayakanmu.
Ilmu
yang hakiki adalah ilmu yang tidak dicampuri oleh kontradiksi dan
bukti-bukti yang menafikan contoh dan keraguan, sebagaimana Ilmu Rasul
saw, Ilmu orang yang benar, serta ilmu Wali. Siapa pun yang
memasuki medan tersebut ibaratnya seperti orang yang tenggelam dalam samudera,
kemudian ia ditelan oleh ombak, lalu kontradiksi manakah yang muncul (dalam
situasi seperti itu) yang bisa didapatkan, dicampurkan, didengar atau dilihat.
Sedangkan siapa yang tidak memasuki medan tersebut ia sangat membutuhkan ayat
“Tiada satu pun yang menyamai-Nya”.
C.
Kegunaan Ilmu
Suatu
hari bertanyalah seorang murid kepada Plato mengenai apakah sebenarnya kegunaan
dari pelajaran matematika yang telah diberikannya selama ini. Filsuf besar ini
merasa tersinggung dengan pertanyaan ini dan langsung mengeluarkan murid
tersebut dari sekolah. Pada waktu itu pengetahuan – pengetahuan, termasuk juga
ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan praktis melainkan estetis. Artinya
seperti kita mempelajari cara main piano dan membaca sajak cinta, maka
pengetahuan seperti ini ditujukan untuk kepuasan jiwa dan bukan sebagai konsep
untuk memecahkan masalah.
Penempatan
ilmu dalam fungsi estetis pada zaman Yunani kuno disebabkan filsafat mereka
yang memandang rendah pekerjaan bersifat praktis yang waktu itu dikerjakan oleh
budak belian. Sebenarnya kurang pada tempatnya apabila kaum yang merdeka
memikirkan masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka. Persepsi yang
salah inilah yang sebenarnya menyebabkan berkembangnya kebudayaan menghafal
dalam sistem pendidikan kita. Ilmu tidak berfungsi sebagai pengetahuan yang
memecahkan masalah sehari – hari melainkan sekedar dikenal dan dikonsumsi.
Sekurang-kurangnya
ada tiga manfaat kegunaan ilmu, yaitu :
1. Ilmu sebagai alat Eksplansi
Berbagai ilmu yang berkembang dewasa
ini, secara umum berfungsi sebagai alat untuk membuat eksplanasi kenyataan yang
ada. Filsafat ilmu dapat dianggap sebagai suatu studi tentang masalah-masalah
eksplanasi. Menurut T Jacob yang dikutip Ahmad Tafsir dalam Emi Fatmawati, “sain merupakan suatu sistem eksplanasiyang
paling dapat diandalkan dibanding dengan sistem lain dalam memahami masa
lampau, sekarang, serta mengubah masa depan”.
Sebagai contoh, ketika itu ada
sebuah sepeda motor tua, dengan knalpot yang berasap tebal berwarna putih
dengan jalan terseok-seok dan tidak bisa berlari kencang. Dari gejala yang
timbul ini seorang mekanik yang memiliki ilmu tentang perbengkelan, bisa
membuat eksplanasi atau penjelasan kepada pemilik motor mengapa begitu. Itulah
manfaat ilmu sebagai eksplanasi.
2. Ilmu sebagai alat Peramal
Tatkala membuat ekplanasi, biasanya
ilmuan telah mengetahui juga faktor penyebab gejala tersebut. Dengan
menganalisis faktor dan gejala yang muncul, ilmuwan dapat melakukan ramalan.
Dalam term ilmuwan ramalan disebut prediksi untuk membedakan ramalan embah
dukun. Sebagai contoh, motor tadi, seorang mekanik bisa memprediksi jika
pemilik motor tidak mau merawat motor dan lalai mengganti oli, maka ring
sehernya akan cepat menipis dan oli mesin akan terbakar dan menyebabkan asap
menjadi tebal dan berwarna putih.
3. Ilmu sebagai alat
Pengontrol
Eksplanasi sebagai bahan membuat
prediksi dan kontrol. Ilmuan selain mampu membuat ramalan berdasarkan
eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol. Contoh : Agar motor kita awet,
motor kita harus diservis dan ganti oli tiap 2000 km, sehingga tingkat keausan
mesin dapat ditekan dan diperlambat, jadi motor kitaakan tetap awet.
Jadi, pada intinya ilmu memiliki kegunaan
atau fungsi yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan
batiniah atau kepuasan jiwa. Jiwa kita tergetar, terharu, tersenyum oleh
komunikasi artistik, menyebabkan dunia yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa
kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan
mengubah sikap dan kelakuan kita.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang
saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu
tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat
keberadaan filsafat. Pada perkembangan
selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan,
sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu
dengan yang lainnya.
Filsafat ilmu berhubungan langsung
dengan hakikat ilmu, yang
kemudian hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam
kebajikan ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala ia
keluar dari ilmu itu.
Ilmu
sendiri memiliki berbagai kegunaan, di antaranya adalah sebagai alat eksplansi,
alat peramal, dan alat pengontrol. Lalu suatu ilmu memiliki fungsi yang
bersifat estetik, yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan
kenikmatan batiniah atau kepuasan jiwa.
B.
Saran
Seiring
berkembangnya zaman, teknologi semakin canggih, banyak orang – orang pintar,
perlatan modern dimana-mana, maka hal tersebut akan memicu munculnya berbagai
jenis ilmu, kemudian akan bercabang – cabang lagi membentuk ilmu baru lagi, dan
seterusnya. Dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada, kesemuanya harus
disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai
kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya
meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan
bencana.
DAFTAR PUSTAKA
Jujun S. Suriasumantri. 2009. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/hakikat-ilmu/
diunduh pada 11 Desember 2013 pukul 19.03
http://www.sufinews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=627:hakikat-ilmu&catid=85:artikel&Itemid=281diunduh pada 11 Desember 2013 pukul
19.12
Blog
Emi Fatmawati. Hakikat dan Kegunaan Ilmu. Diunduh pada 11 Desember 2013 pukul
19.10
No comments:
Post a Comment