Total Pageviews

Total Pageviews

Saturday, January 11, 2014

hakikat dan kegunaan ilmu

MAKALAH
HAKIKAT DAN KEGUNAAN ILMU
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Epistemologi dan Logika Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Dwi Siswoyo

logo_uny.gif


Anggota Kelompok :
1.        Dian Novitasari    (10101241016)
2.        Elisabet Widya R (10101241035)
3.        Ahmad Suwandi  (12101241007)
4.        Suratno                 (12101241009)
5.        Riski Yuliani         (12101241041)
6.        Dedi Mukhlas M. (12101241054)


PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup pula sebuah telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana ilmu hendak dicapai. Telaah yang kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.
Kita sering mendengar kata ilmu pengetahuan, tetapi banyak orang awam yang tidak memahami bahwa ilmu itu berbeda dengan pengetahuan. Bahkan banyak di antara mereka yang menyamakan kedua pengertian tentang ilmu dan pengetahuan. Sampai sekarang ini banyak orang mempelajari berbagai ilmu pengetahuan bukanlah sebagai teori yang mempunyai kegunaan praktis melainkan sekedar upaya untuk memperkaya jiwa. Kadang mereka tidak tahu mengapa harus mempelajari ilmu itu, padahal mereka juga tidak tahu apa kegunannya, dan apakah akan mereka gunakan suatu saat nanti. Melihat banyaknya orang yang mempelajari ilmu, maka pada kesempatan kali ini kelompok kami akan membahas mengenai apa sebenarnya hakikat ilmu, serta kegunaan ilmu apabila ditelaah melalui filsafat.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apakah filsafat ilmu itu ?
2.      Apa dan bagaimanakah hakikat suatu ilmu ?
3.      Apa dan bagaimanakah kegunaan suatu ilmu ?

C.    Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apa itu filsafat ilmu
2.      Untuk mengetahui apa dan bagaimana hakikat suatu ilmu
3.      Untuk mengetahui apa dan bagaimana kegunaan suatu ilmu

























BAB II
PEMBAHASAN

A.       Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat Ilmu dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu social, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social dimana keduanya memiliki ciri-ciri keilmuan yang sama.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah – masalah, seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi. Filsafat ilmu juga mengkaji tentang cara menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan metode ilmiah, macam – macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan, serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan dan pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode impiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan suatu hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori – teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.


B.       Hakikat Ilmu
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya
Ilmu sekedar pengetahuan yang harus bisa dihafal, agar bisa dikemukakan waktu berdebat : makin hafal lantas makin hebat. Pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang – bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul bisa kita sambut. Kemampuan mengutip teori – teori ilmiah yang bersifat estetik ini lalu berkembang menjadi status sosial.
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasiatau bukan merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri serta juga menciptakan hidup itu sendiri. Menghadapi kenyataan ini ilmu pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya.
Ontology diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari objek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Pertanyaan mengenai hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara orang dapat mengatakan bahwa:
1.        Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif.
Ditinjau dari pandangan ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung  pada pengalaman-pengalaman mereka.
2.        Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi ontology, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. Pendirian ini berpandangan bahwa ilmu memiliki hakikat“Objektivisme Logis“
3.        Nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan, yang kemudian disebut dengan “Objektivisme Metafisik“
Pada prinsipnya ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain).
Hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam  kebajikan  ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala ia keluar dari ilmu itu. Ilmu  itu bagi hati ibarat dirham-dirham dan dinar-dinar di  tangan. Bisa bermanfaat bagimu bisa pula membahayakanmu.
Ilmu yang  hakiki  adalah ilmu yang tidak dicampuri oleh kontradiksi dan bukti-bukti yang menafikan contoh dan keraguan, sebagaimana Ilmu Rasul saw,  Ilmu orang yang  benar, serta ilmu Wali. Siapa pun yang memasuki medan tersebut ibaratnya seperti orang yang tenggelam dalam samudera, kemudian ia ditelan oleh ombak, lalu kontradiksi manakah yang muncul (dalam situasi seperti itu) yang bisa didapatkan, dicampurkan, didengar atau dilihat. Sedangkan siapa yang tidak memasuki medan tersebut ia sangat membutuhkan ayat “Tiada satu pun yang menyamai-Nya”.

C.       Kegunaan Ilmu
Suatu hari bertanyalah seorang murid kepada Plato mengenai apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah diberikannya selama ini. Filsuf besar ini merasa tersinggung dengan pertanyaan ini dan langsung mengeluarkan murid tersebut dari sekolah. Pada waktu itu pengetahuan – pengetahuan, termasuk juga ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan praktis melainkan estetis. Artinya seperti kita mempelajari cara main piano dan membaca sajak cinta, maka pengetahuan seperti ini ditujukan untuk kepuasan jiwa dan bukan sebagai konsep untuk memecahkan masalah.
Penempatan ilmu dalam fungsi estetis pada zaman Yunani kuno disebabkan filsafat mereka yang memandang rendah pekerjaan bersifat praktis yang waktu itu dikerjakan oleh budak belian. Sebenarnya kurang pada tempatnya apabila kaum yang merdeka memikirkan masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka. Persepsi yang salah inilah yang sebenarnya menyebabkan berkembangnya kebudayaan menghafal dalam sistem pendidikan kita. Ilmu tidak berfungsi sebagai pengetahuan yang memecahkan masalah sehari – hari melainkan sekedar dikenal dan dikonsumsi.
Sekurang-kurangnya ada tiga manfaat kegunaan ilmu, yaitu :
1.    Ilmu sebagai alat Eksplansi
Berbagai ilmu yang berkembang dewasa ini, secara umum berfungsi sebagai alat untuk membuat eksplanasi kenyataan yang ada. Filsafat ilmu dapat dianggap sebagai suatu studi tentang masalah-masalah eksplanasi. Menurut T Jacob yang dikutip Ahmad Tafsir dalam Emi Fatmawati, “sain merupakan suatu sistem eksplanasiyang paling dapat diandalkan dibanding dengan sistem lain dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan”.
Sebagai contoh, ketika itu ada sebuah sepeda motor tua, dengan knalpot yang berasap tebal berwarna putih dengan jalan terseok-seok dan tidak bisa berlari kencang. Dari gejala yang timbul ini seorang mekanik yang memiliki ilmu tentang perbengkelan, bisa membuat eksplanasi atau penjelasan kepada pemilik motor mengapa begitu. Itulah manfaat ilmu sebagai eksplanasi.

2.   Ilmu sebagai alat Peramal
Tatkala membuat ekplanasi, biasanya ilmuan telah mengetahui juga faktor penyebab gejala tersebut. Dengan menganalisis faktor dan gejala yang muncul, ilmuwan dapat melakukan ramalan. Dalam term ilmuwan ramalan disebut prediksi untuk membedakan ramalan embah dukun. Sebagai contoh, motor tadi, seorang mekanik bisa memprediksi jika pemilik motor tidak mau merawat motor dan lalai mengganti oli, maka ring sehernya akan cepat menipis dan oli mesin akan terbakar dan menyebabkan asap menjadi tebal dan berwarna putih.
3.   Ilmu sebagai alat Pengontrol
Eksplanasi sebagai bahan membuat prediksi dan kontrol. Ilmuan selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol. Contoh : Agar motor kita awet, motor kita harus diservis dan ganti oli tiap 2000 km, sehingga tingkat keausan mesin dapat ditekan dan diperlambat, jadi motor kitaakan tetap  awet.
Jadi, pada intinya ilmu memiliki kegunaan atau fungsi yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan batiniah atau kepuasan jiwa. Jiwa kita tergetar, terharu, tersenyum oleh komunikasi artistik, menyebabkan dunia yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan mengubah sikap dan kelakuan kita.








BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat.  Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya.
Filsafat ilmu berhubungan langsung dengan hakikat ilmu, yang kemudian hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam  kebajikan  ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala ia keluar dari ilmu itu.
Ilmu sendiri memiliki berbagai kegunaan, di antaranya adalah sebagai alat eksplansi, alat peramal, dan alat pengontrol. Lalu suatu ilmu memiliki fungsi yang bersifat estetik, yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan batiniah atau kepuasan jiwa.

B.       Saran
Seiring berkembangnya zaman, teknologi semakin canggih, banyak orang – orang pintar, perlatan modern dimana-mana, maka hal tersebut akan memicu munculnya berbagai jenis ilmu, kemudian akan bercabang – cabang lagi membentuk ilmu baru lagi, dan seterusnya. Dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada, kesemuanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.



DAFTAR PUSTAKA

            Jujun S. Suriasumantri. 2009. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta :  Pustaka Sinar Harapan.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/hakikat-ilmu/ diunduh pada 11 Desember 2013 pukul 19.03
Blog Emi Fatmawati. Hakikat dan Kegunaan Ilmu. Diunduh pada 11 Desember 2013 pukul 19.10






No comments:

Post a Comment