Total Pageviews

Total Pageviews

Saturday, January 11, 2014

hakikat dan kegunaan ilmu

MAKALAH
HAKIKAT DAN KEGUNAAN ILMU
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Epistemologi dan Logika Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Dwi Siswoyo

logo_uny.gif


Anggota Kelompok :
1.        Dian Novitasari    (10101241016)
2.        Elisabet Widya R (10101241035)
3.        Ahmad Suwandi  (12101241007)
4.        Suratno                 (12101241009)
5.        Riski Yuliani         (12101241041)
6.        Dedi Mukhlas M. (12101241054)


PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup pula sebuah telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana ilmu hendak dicapai. Telaah yang kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.
Kita sering mendengar kata ilmu pengetahuan, tetapi banyak orang awam yang tidak memahami bahwa ilmu itu berbeda dengan pengetahuan. Bahkan banyak di antara mereka yang menyamakan kedua pengertian tentang ilmu dan pengetahuan. Sampai sekarang ini banyak orang mempelajari berbagai ilmu pengetahuan bukanlah sebagai teori yang mempunyai kegunaan praktis melainkan sekedar upaya untuk memperkaya jiwa. Kadang mereka tidak tahu mengapa harus mempelajari ilmu itu, padahal mereka juga tidak tahu apa kegunannya, dan apakah akan mereka gunakan suatu saat nanti. Melihat banyaknya orang yang mempelajari ilmu, maka pada kesempatan kali ini kelompok kami akan membahas mengenai apa sebenarnya hakikat ilmu, serta kegunaan ilmu apabila ditelaah melalui filsafat.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apakah filsafat ilmu itu ?
2.      Apa dan bagaimanakah hakikat suatu ilmu ?
3.      Apa dan bagaimanakah kegunaan suatu ilmu ?

C.    Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apa itu filsafat ilmu
2.      Untuk mengetahui apa dan bagaimana hakikat suatu ilmu
3.      Untuk mengetahui apa dan bagaimana kegunaan suatu ilmu

























BAB II
PEMBAHASAN

A.       Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat Ilmu dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu social, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social dimana keduanya memiliki ciri-ciri keilmuan yang sama.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah – masalah, seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi. Filsafat ilmu juga mengkaji tentang cara menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan metode ilmiah, macam – macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan, serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan dan pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode impiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan suatu hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori – teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.


B.       Hakikat Ilmu
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya
Ilmu sekedar pengetahuan yang harus bisa dihafal, agar bisa dikemukakan waktu berdebat : makin hafal lantas makin hebat. Pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang – bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul bisa kita sambut. Kemampuan mengutip teori – teori ilmiah yang bersifat estetik ini lalu berkembang menjadi status sosial.
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasiatau bukan merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri serta juga menciptakan hidup itu sendiri. Menghadapi kenyataan ini ilmu pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya.
Ontology diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari objek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Pertanyaan mengenai hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara orang dapat mengatakan bahwa:
1.        Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif.
Ditinjau dari pandangan ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung  pada pengalaman-pengalaman mereka.
2.        Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi ontology, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. Pendirian ini berpandangan bahwa ilmu memiliki hakikat“Objektivisme Logis“
3.        Nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan, yang kemudian disebut dengan “Objektivisme Metafisik“
Pada prinsipnya ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain).
Hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam  kebajikan  ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala ia keluar dari ilmu itu. Ilmu  itu bagi hati ibarat dirham-dirham dan dinar-dinar di  tangan. Bisa bermanfaat bagimu bisa pula membahayakanmu.
Ilmu yang  hakiki  adalah ilmu yang tidak dicampuri oleh kontradiksi dan bukti-bukti yang menafikan contoh dan keraguan, sebagaimana Ilmu Rasul saw,  Ilmu orang yang  benar, serta ilmu Wali. Siapa pun yang memasuki medan tersebut ibaratnya seperti orang yang tenggelam dalam samudera, kemudian ia ditelan oleh ombak, lalu kontradiksi manakah yang muncul (dalam situasi seperti itu) yang bisa didapatkan, dicampurkan, didengar atau dilihat. Sedangkan siapa yang tidak memasuki medan tersebut ia sangat membutuhkan ayat “Tiada satu pun yang menyamai-Nya”.

C.       Kegunaan Ilmu
Suatu hari bertanyalah seorang murid kepada Plato mengenai apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah diberikannya selama ini. Filsuf besar ini merasa tersinggung dengan pertanyaan ini dan langsung mengeluarkan murid tersebut dari sekolah. Pada waktu itu pengetahuan – pengetahuan, termasuk juga ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan praktis melainkan estetis. Artinya seperti kita mempelajari cara main piano dan membaca sajak cinta, maka pengetahuan seperti ini ditujukan untuk kepuasan jiwa dan bukan sebagai konsep untuk memecahkan masalah.
Penempatan ilmu dalam fungsi estetis pada zaman Yunani kuno disebabkan filsafat mereka yang memandang rendah pekerjaan bersifat praktis yang waktu itu dikerjakan oleh budak belian. Sebenarnya kurang pada tempatnya apabila kaum yang merdeka memikirkan masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka. Persepsi yang salah inilah yang sebenarnya menyebabkan berkembangnya kebudayaan menghafal dalam sistem pendidikan kita. Ilmu tidak berfungsi sebagai pengetahuan yang memecahkan masalah sehari – hari melainkan sekedar dikenal dan dikonsumsi.
Sekurang-kurangnya ada tiga manfaat kegunaan ilmu, yaitu :
1.    Ilmu sebagai alat Eksplansi
Berbagai ilmu yang berkembang dewasa ini, secara umum berfungsi sebagai alat untuk membuat eksplanasi kenyataan yang ada. Filsafat ilmu dapat dianggap sebagai suatu studi tentang masalah-masalah eksplanasi. Menurut T Jacob yang dikutip Ahmad Tafsir dalam Emi Fatmawati, “sain merupakan suatu sistem eksplanasiyang paling dapat diandalkan dibanding dengan sistem lain dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan”.
Sebagai contoh, ketika itu ada sebuah sepeda motor tua, dengan knalpot yang berasap tebal berwarna putih dengan jalan terseok-seok dan tidak bisa berlari kencang. Dari gejala yang timbul ini seorang mekanik yang memiliki ilmu tentang perbengkelan, bisa membuat eksplanasi atau penjelasan kepada pemilik motor mengapa begitu. Itulah manfaat ilmu sebagai eksplanasi.

2.   Ilmu sebagai alat Peramal
Tatkala membuat ekplanasi, biasanya ilmuan telah mengetahui juga faktor penyebab gejala tersebut. Dengan menganalisis faktor dan gejala yang muncul, ilmuwan dapat melakukan ramalan. Dalam term ilmuwan ramalan disebut prediksi untuk membedakan ramalan embah dukun. Sebagai contoh, motor tadi, seorang mekanik bisa memprediksi jika pemilik motor tidak mau merawat motor dan lalai mengganti oli, maka ring sehernya akan cepat menipis dan oli mesin akan terbakar dan menyebabkan asap menjadi tebal dan berwarna putih.
3.   Ilmu sebagai alat Pengontrol
Eksplanasi sebagai bahan membuat prediksi dan kontrol. Ilmuan selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol. Contoh : Agar motor kita awet, motor kita harus diservis dan ganti oli tiap 2000 km, sehingga tingkat keausan mesin dapat ditekan dan diperlambat, jadi motor kitaakan tetap  awet.
Jadi, pada intinya ilmu memiliki kegunaan atau fungsi yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan batiniah atau kepuasan jiwa. Jiwa kita tergetar, terharu, tersenyum oleh komunikasi artistik, menyebabkan dunia yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan mengubah sikap dan kelakuan kita.








BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat.  Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya.
Filsafat ilmu berhubungan langsung dengan hakikat ilmu, yang kemudian hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam  kebajikan  ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala ia keluar dari ilmu itu.
Ilmu sendiri memiliki berbagai kegunaan, di antaranya adalah sebagai alat eksplansi, alat peramal, dan alat pengontrol. Lalu suatu ilmu memiliki fungsi yang bersifat estetik, yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan batiniah atau kepuasan jiwa.

B.       Saran
Seiring berkembangnya zaman, teknologi semakin canggih, banyak orang – orang pintar, perlatan modern dimana-mana, maka hal tersebut akan memicu munculnya berbagai jenis ilmu, kemudian akan bercabang – cabang lagi membentuk ilmu baru lagi, dan seterusnya. Dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada, kesemuanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.



DAFTAR PUSTAKA

            Jujun S. Suriasumantri. 2009. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta :  Pustaka Sinar Harapan.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/hakikat-ilmu/ diunduh pada 11 Desember 2013 pukul 19.03
Blog Emi Fatmawati. Hakikat dan Kegunaan Ilmu. Diunduh pada 11 Desember 2013 pukul 19.10






Ekonomi Pendidikan

TUGAS PORTOFOLIO
EKONOMI PENDIDIKAN
Diajukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Ekonomi Pendidikan
Dosen pengampu : Maria Dominika Niron, M.Pd


logo_uny.gif


Disusun oleh :
Nama   : Riski Yuliani
NIM    : 12101241041







PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Riski Yuliani / 12101241041
Manajemen Pendidikan (III A)
 
 



A.    Contoh Permasalahan Pendidikan di Indonesia
Masalah adalah sesuatu yang dirasakan secara luas oleh masyarakat (fenomena).
Salah satu contoh masalah pendidikan di Indonesia yang dirasakan secara luas oleh masyarakat adalah masalah tawuran pelajar. tawuran pelajar dirasakan oleh masyarakat luas , karena biasanya tawuran pelajardilakukan di luar sekolah. Kedua belah pihak yang bertawuran sering merusak fasilitas umum di tempat tawuran, mengganggu aktivitas dan lalu lintas, membahayakan orang yang lewat atau tinggal di sekitar lokasi, sehingga meresahkan masyarakat. Dampak negatif tawuran pelajar jelas saja tidak hanya dirasakan oleh siswa, sekolah, dan orangtua, tetapi juga masyarakat sekitar.
Contoh yang kedua adalah belum maratanya pendidikan di Indonesia. Daerah – daerah tertinggal mutu pendidikannya masih dibawah standar. Penyaluran dana pendidikan tidak merata. Hal ini juga berdampak pada masyarakat luas, karena orang – orang di daerah tertinggal akan selalu di bawah orang – orang yang mengenyam pendidikan di kota.
B.     Pemecahan Masalah Pendidikan di Indonesia
Upaya pemecahan masalahnya, jika dilihat dari segi manajemen, yaitu manajemen peserta didik. Manajemen Peserta Didik  adalah layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti pengenalan, pendaftaran, dan layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah. Manajemen Peserta Didik juga dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.
Tujuan dari manajemen peserta didik sendiri yaitu untuk mengatur kegiatan – kegiatan peserta didik guna menunjang proses pembelajaran di sekolah agar berjalan lancar , tertib, dan terartur sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Sedangkan fungsi dari manajemen peserta didik sendiri adalah sebagai wahana peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin , baik mengenai segi – segi individualismenya , segi sosial , dan segi potensial peserta didiknya.
Untuk mengatasi masalah tawuran pelajar di atas, siswa dapat diberi arahan tentang tat tertib, dan perilaku ketika Masa Orientasi Siswa, kemudian peran guru BK juga sangat penting di sini untukmengawasi, mengontrol, dan menuntun siswa agar tidak bertindak melanggar tata tertib dan peraturan di sekolah. Siswa dapat diberi sanksi, mulai dari yang paling ringan hingga yag paling berat.
            Dalam mengatasi masalah yang kedua adalah dengan meratakan pendistribusian setiap apapun yang mendukung lancarnya pendidikan. Dapat dengan mendatangkan guru yang profesional, fasilitas yang memadai, atau memberikan beasiswa untuk sekolah di kota.

















KETIDAKLULUSAN SISWA DALAM UJIAN NASIONAL
Riski Yuliani / 12101241041
Manajemen Pendidikan (III A)
 
 



A.    Faktor Penyebab
1.      Faktor Internal
a.         Siswa tidak percaya diri dalam menghadapi UN, sehingga saat UN siswa menjadi tidak tenang dalam mengerjakan soal, dan mencontek jawaban teman yang belum tentu benar.
b.        Siswa kurang menguasai materi pelajaran yang di-UN kan.
c.         Siswa kurang menjaga kesehatan fisiknya, sehingga saat UN jatuh sakit dan mengerjakan soal tidak dengan maksimal.
2.      Faktor eksternal
a.    Sekolah
-          Fasilitas sekolah yang kurang mendukung pembelajaran.
-          Metode dan sistem pembelajaran di sekolah yang belum baik.
b.    Guru
-          Ada guru mata pelajaran yang sama akan tetapi tidak seragam dalam penyampaian materi, sehingga membingungkan siswa.
-          Metode guru dalam mengajar tidak disenangi siswa, sehingga menyebabkan siswa takut, malas, dan tidak termotivasi untuk elajar.
c.    Keluarga
-          Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan, sehingga anak putus asa dalam melanjutkan sekolahnya.
-          Kurangnya motivasi dan perhatian dari orangtua dan keluarga, sehingga anak tidak ada yang mengawasi dalam belajar, dan tidak bersemangat untuk belajar.
d.   Lingkungan dan teman
-          Lingkungan yang tidak mendukung kenyamanan siswa dalam belajar.
-          Teman yang memberi contoh tidak baik. Contohnya teman yang sukanya bermain dan tidak pernah belajar, menyebabkan siswa terpengaruh dengan temannya ini.
B.     Pemecahan Masalah
Dari beberapa penyebab di atas, saya mencoba mencari pemecahan atau upaya untuk mengatasinya.
1.      Upaya mengatasi masalah yang disebabkan faktor internal
Untuk memupuk rasa percaya diri pada siswa, seharusnya orangtua maupun pihak sekolah memberikan motivasi. Dari pihak orangtua, orangtua dapat memberi motivasi dengan iming-iming hadiah, maupun perhatian setiap saat agar siswa senantiasa giat belajar. Sedangkan dari sekolah, motivasi dapat diberikan oleh guru di sela-sela pembelajaran maupun mengadakan acara untuk siswa dengan mengundang seorang motivator, biasanya berlangsung bersamaan dengan acara doa bersama sebelum UN.
Siswa yang kurang percaya diri dalam menghadapi UN juga dapat disebabkan oleh belum terkuasainya materi UN. Untuk itu ada beberapa upaya yang dapat dilakukan seperti memberikan intensiv belajar lebih awal. Sekolah biasanya mengadakan les 3 bulan sebelum UN, agar dapat mendalami materi maka dapat dilakukan lebih awal yaitu di awal semester siswa memasuki kelas 3. Intensiv berlajar ini dilakukan pada jam ke-nol dan siang atau sore setelah jam pembelajaran berakhir. Dalam program ini, siswa diberikan modul dari sekolah berupa ringkasan materi yang sesuai dengan SKL UN beserta soal try out UN. Untuk mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah, maka sekolah juga dapat bekerjasama dengan lembaga bimbingan belajar yang kiranya bagus untuk mengadakan try out secara berkala disertai dengan pembahasan oleh tentor setelah usai try out.
Kadang siswa kurang menguasai materi karena guru yang tidak seragam dalam penyampaian materi. Seperti pengalaman saya waktu SMA kelas 3, guru ekonomi di sekolah saya ada 3, tetapi dalam menyampaikan materi yang sama apa yang mereka sampaikan berbeda-beda. Saat menjelang UN pun siswa masih banyak yang dibingungkan oleh guru yang memberikan jawaban berbeda-beda pada salah satu contoh soal. Hal ini tentu membuat siswa bingung, kadang siswa lebih percaya pada tentor di lembaga bimbingan belajar yang mereka ikuti. Namun untuk siswa yang tidak ikut bimbel akan tetap merasa bingung, untuk itu sebaiknya para guru berkumpul dulu untuk membahas materi UN yang akan diberikan kepada siswa, serta merundingkan contoh soal-soal try out beserta jawabannya.
Untuk masalah kesehatan, ini juga merupakan masalah yang disebabkan karena kurangnya perhatian orangtua, maupun karena faktor diri sendiri yang terlalu pusing memikirkan UN, dan memaksa dirinya untuk terus belajar tetapi tanpa istirahat, biasanya belajar sampai larut malam, sedangkan dari pagi sampai sore belajar juga di sekolah maupun tempat bimbingan belajar. Jika memungkinkan, datangkan orangtua siswa untuk membahas mengenai peran orangtua dan guru dalam memotivasi siswa.
2.      Upaya mengatasi masalah yang disebabkan faktor eksternal
Yang pertama adalah faktor sekolah, yaitu kondisi fisik sekolah yang kurang mendukung proses belajar mengajar. Oleh karena itu, untuk mengatasinya tentunya dengan melengkapi fasilitas yang belum ada, dengan memprioritaskan fasilitas mana yang paling urgent untuk digunakan dan memperlancar proses pembelajaran. Kemudian untuk mengatasi masalah sekolah yang kedua, yaitu dengan mengadakan rapat evaluasi yang membahas mengenai sistem pembelajaran di sekolah. Sebenarnya tidak untuk masalah ini, untuk masalah yang lain pun dapat dengan melakukan evaluasi untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran selanjutnya. Agar siswa merasa senang dengan metode pembelajaran yang digunakan sekolahnya, sekolah harus dapat menemukan inovasi baru, mungkin dengan mengotak-atik jadwal sekolah.
Untuk masalah guru yang pertama sudah dibahas dalam upaya mengatasi masalah karena faktor internal. Kemudian untuk masalah yang kedua, guru harus bisa menarik perhatian dan minat belajar siswa dengan cara mengajar yang bervariasi. Apabila biasanya mengajar dengan menggunakan whiteboard, dapat diganti dengan slide presentasi. Guru juga harus bersikap ramah, menyemangati, dan membantu siswa yang keseulitan dengan sabar.
Kemudian mengenai masalah keluarga, pihak sekolah bisa mengeinformasikan kepada siswa sekaligus orangtua siswa bahwa masalah ekonomi sangat bisa diatasi. Biasanya masalah ini ditangani oleh guru BK. Guru BK dapat menjelaskan satu-satu mengenai beasiswa untuk melanjutkan studi. Jika memungkinkan pula, datangkan orangtua siswa untuk membahas mengenai peran orangtua dan guru dalam memotivasi siswa.
Yang terakhir masalah lingkungan dan teman, masalah ini juga tidak luput karena disebabkan kurangnya perhatian orangtua. Anak dibiarkan bebas, dan tidak diawasi. Hal ini benar, karena orangtua tidak mengekang anak untuk tidak melakukan sesuatu. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika orangtua mampu meluangkan waktunya untuk mengawasi belajar anak.









KRITERIA EKONOMIK DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN
Riski Yuliani / 12101241041
Manajemen Pendidikan (III A)
 
 



A.    Kriteria Ekonomik
Kriteria adalah sesuatu yang harus dipenuhi atau harus dicapai, oleh sebab itu kriteria harus ditetapkan karena sebagai acuan pada apa yang harus dicapai itu.
Kriteria digunakan sebagai ukuran atau tolok ukur keberhasilan suatu proses kerja, atau dengan kata lain dapat dikatakan sebagai sesuatu yang dijadikan ukuran dalam menentukan tingkat ketercapaian suatu proses kerja. Oleh karena itu, segala sesuatu yang menjadi kriteria haruslah riil/ konkret, dan dapat diukur.
Kriteria ekonomik merupakan standar (ukuran) ekonomik yang dipakai sebagai pertimbangan dalam penentuan tingkat ketercapaian atau keberhasilan (efektivitas dan efisiensi) dari suatu proses atau kegiatan.
Tahap menetapkan kriteria ekonomi adalah pada bagian perencanaan. Bagian perencanaan tersebut merupakan bagian pada saat menetapkam 5W+ 1H. Untuk How (H)  dapat diketahui setelah menetapkan 5 W. Sebelum menetapkan 5W + 1H, sebelumnya harus tahu terlebih dagulu tujuan yang akan dicapai. Menganalisis kriteria ekonomik yaitu dengan memandang keefisienan dan keefektivan hasil, waktu, dan biaya yang digunakan.
B.     Kriteria Ekonomik dalam Manajemen Pendidikan
Lembaga pendidikan adalah pengasil seuatu produk, karena lembaga pendidikan dipandang mampu menghasilkan produk baik, dengan menggunakan manajemen atau pengaturam supaya mencapai hal tersebut. Karena menghasilkan suatu produk, maka pendidikan dipandang sebagai suatu lembaga ekonomi. Dalam kegiatan manajemen pendidikan inilah kriteria ekonomi berfungsi. Kriteria ekonomi bermanfaat untuk menekan waktu dan biaya secara efektif dan efisien untuk mengasilkan produk di lembaga pendidikan. Produk merupakam output atau hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan. Kriteria ekonomi ini digunakan dalam manajemen pendidikan untuk mengatur keefektifan dan keefesienan penggunaan input untuk mencapai tujuan dari lembaga pendidikan. Kriteria ekonomik diperlukan dalam pendidikan karena dalam penyelenggaraan pendidikan harus mencapai hasil tertentu, seperti mencapai kecerdasan , keterampialan, atau pemebentukan sikap tertentu. Dalam manajemen pendidikan, memanage pendidikan dikatakan berhasil apabila perencanaan yang memuat tujuan sesuai dengan hasil yang telah dicapai. Hal ini dapat dilihat melalui evaluasi program lembaga pendidikan tersebut, apabila kriteria ekonomi digunakan dengan baik maka output lembaga pendidikan juga dapat dikatakan baik.





















MELAKUKAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
JIKA PENDIDIKAN DIPANDANG SEBAGAI BARANG
Riski Yuliani / 12101241041
Manajemen Pendidikan (III A)
 
 




A.    Konsep Pendidikan Dipandang Sebagai Barang
Pendidikan merupakan suatu hal yang penting, karena  pendidikan sebagai usaha sadar bagi pengembangan manusia dan masyarakat, mendasarkan pada landasan pemikiran tertentu. (Dwis Siswoyo dkk, 2011 : 1)
Pendidikan dianggap sebagai barang karena pendidikan merupakan kebutuhan manusia. Manusia akan lemah dan ketinggalan zaman apabila tidak mengenyam pendidikan. Dalam ekonomi, kebutuhan manusia dapat berwujud barang maupun jasa. Pendidikan juga menghasilkan sesuatu berupa kemampuan, pengetahuan, dan pembentukan sikap. Akan tetapi hasil pendidikan tidak dapat dimanfaatkan seketika itu, karena hasil pendidikan berguna pada jangka panjang.
Konsep pendidikan dari sisi ekonomi (filosofi) :
1.        Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia
2.        Metafor jual beli : untuk memenuhinya diperlukan lembaga pendidikan yang memberikan (menjual) jasa layanan.
3.        Metafor proses produksi, penyelenggaraan/ proses layanan pendidikan pada lembaga pendidikan harus menghasilkan produk
4.        Pendidikan = barang
Pemanfaatan barang sendiri dibedakan menjadi berikut :
1.        Barang normal
2.        Barang superior
3.        Barang inferior
Barang atau pendidikan merupakan kebutuhan manusia, kebutuhan manusia sendiri sifatnya tidak terbatas, karena manusia tidak pernah merasa puas. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, manusia akan selalu membutuhkan pendidikan, misalnya, manusia akan selalu ingin melanjutkan pendidikan di jenjang selanjutnya. Saat pendaftaran mahasiswa baru, Perguruan Tinggi favorit akan mempunyai pendaftar yang sangat melebihi batas kursi yang ditawarkan. Ini membuktikan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia itu terbatas. Oleh karena itu, barang berupa pendidikan itu harus dijaga dan ditingkatkan terus mutu dan kualitasnya agar tetap laku.
B.     Proses Manajemen Pendidikan jika Pendidikan Dipandang Sebagai Barang
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pendidikan adalah suatu barang, karena pendidikan merupakan kebutuhan manusia. Dan salah satu alat pemuas kebutuhan manusia adalah barang.
Dalam setiap kegiatan manajemen, termasuk manajemen pendidikan selalu didasari oleh fungsi manajemen berupa perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan terakhir evaluasi. Dengan menerapkan fungsi manajemen tersebut, suatu kegiatan diharapkan dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Karena pendidikan dipandang sebagai suatu barang, maka proses manajemennya adalah dengan strategi bagaimana menggunakan barang tersebut dengan efektif dan efisien sehingga mencapai hasil atau ouput yang diharapkan. Yang mempengaruhi tuntutan kebutuhan pendidikan adalah harga, pilihan pendidikan, harga barang lain (jasa-jsa pendidikan), kesempatan kerja, dan sebagainya. Upaya yang harus dilakukan adalah memanage bagaimana agar barang (pendidikan) ini tetap laku, atau selalu dibutuhkan manusia. Strateginya dapat dengan selalu meningkatkan kualitas barang (mutu pendidikan), memperhatikan harga barang (biaya pendidikan) dengan kualitas pendidikan yang didapat oleh pembeli (peserta didik), memanage bagaimana agar produk (pendidikan) ini tetap mampu bersaing dengan produk lain dan mampu bersaing di dunia kerja.
Kemudian menurut teori kebutuhan, bahwa kebutuhan manusia itu selalu meningkat sedangkan sumber dayanya terbatas, maka dengan manajemen pendidikan, suatu lembaga pendidikan dapat mengelola bagaimana agar input atau sumber daya pendidikan ini tetap ada dengan mutu yang berkualitas, input ini dapat berupa peningkatan kompetensi guru dengan mengingutkannya pada diklat maupun ketersediaan dan kualitas dari fasilitas yang ada di lembaga pendidikan. Dengan tersedianya kebutuhan yang memadai, manusia akan senantiasa untuk berusaha mengoptimalkan sumer daya tadi. Yang terkahir, kebutuhan manusia memang banyak macamnya, slah satunya adalah pendidikan. Jadi, pendidikan harus dikelola dengan baik menggunakan manajemen yang baik agar kebutuhan manusia senantiasa terpenuhi.

Daftar pustaka :
Dwi Siswoyo, dkk. 2011. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press



















ANALISIS PROGRAM DI LEMBAGA PENDIDIKAN
Riski Yuliani / 12101241041
Manajemen Pendidikan (III A)
 
 



A.    Nama Program
Ektrakurikuler Pramuka
B.     Bagaimana Programnya ?
Produk dari program pendidikan kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMA adalah :
1.    Pengamalan Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka pada peserta didik .
Berdasar pengamalan di atas, siswa menjadi :
a.    Anggotanya menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta tinggi mental, moral, budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya.
b.    Anggotanya menjadi manusia yang tinggi kecerdasan dan keterampilannya.
c.    Anggotanya menjadi manusia yang kuat dan sehat fisiknya.
d.   Anggotanya menjadi manusia yang menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga menjadi angota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara.
2.    Anggotanya dapat menjadi Dewan Ambalan dengan ilmu yang dia dapatkan, yang digunakan untuk mendidik adik angkatan pada kegiatan pramuka tahun selanjutnya.
C.    Sifat Program
Sifat program ekstrakurikuler Pramuka ini adalah sekunder. Karena program ini bersifat melengkapi program utama yaitu kegiatan belajar mengajar. Program ini bersifat wajib bagi seluruh peserta didik yang duduk di kelas X.  Program ini diwajibkan karena mengacu pada penerapan kurikulum 2013 yang bertema pendidikan karakter.


D.    Strategi Manajerial dari Program Ekstrakurikuler Pramuka
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam inovasi manajemen kegiatan ekstrakurikuler pramuka adalah sebagai berikut:
1.      Pertama, program kegiatan hendaknya disusun melalui rapat dewan guru bersama kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan. Program yang direncanakan secara mendetil, dijabarkan dalam program kegiatan semester, kegiatan bulanan dan kegiatan mingguan, berikut tanggal pelaksanaan dan target pencapaiannya.
2.      Kedua, pelaksanaan latihan pramuka mengacu kepada progam yang telah disusun sesuai dengan periode tertentu. Latihan minimal dilaksanakan sekali seminggu ditambah dengan waktu lain sesuai dengan kesepakatan anggota, khusus untuk persiapan melaksanakan kegiatan atau perlombaan latihan lebih diintensifkan lagi.
3.      Ketiga, pembina pramuka dipilih dari tenaga pendidik atau tenaga kependidikan yang benar-benar memiliki kecakapan khusus tentang kepramukaan serta memiliki loyalitas yang tinggi terhadap keberlangsungan kegiatan melalui rapat setiap awal tahun pelajaran.
4.      Keempat, untuk mengembangkan ide kreatif dan inovatif dalam mengelola organisasi pramuka, hendaknya pembina pramuka diberikan kewenangan dan tanggung jawab sepenuhnya.
5.      Kelima, memiliki kelengkapan administrasi gerakan pramuka seperti buku induk, buku tamu, buku inventaris, buku risalah rapat/pertemuan, buku keuangan dan iuran, buku ekspedisi, buku kegiatan/latihan, buku harian, log book, agenda surat dan buku sejarah dan perkembangan kegiatan.
6.      Keenam, pembina diwajibkan membuat laporan secara berkala setiap satu semester yang ditujukan kepada kamabigus.
7.      Ketujuh, pihak sekolah komitmen terhadap penyediaan sarana dan prasarana termasuk pembiayaan untuk kegiatan ekstrakurikuler pramuka yang terus meningkat setiap tahunnya.
8.      Kedelapan, dalam hal pengelolaan anggota, pembina diharapkan membentuk lebih dari satu regu inti untuk putra dan putri. Hal ini dimaksudkan agar memperbesar peluang anggota untuk dapat terpilih dalam regu inti, dengan demikian motivasi dan semangat berkompetisi antar anggota semakin meningkat.























MERUMUSKAN TINGKAT EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS DARI SUATU CARA KERJA LEMBAGA
Riski Yuliani / 12101241041
Manajemen Pendidikan (III A)
 
 




A.    Konsep Efisiensi dan Efektivitas
Efisiensi dimaknai sebagi berdaya guna. Efisiensi adalah cara yang dipakai untuk mencapai tujuan atau hasil, dengan memperhatikan seberapa banyak sumberdaya yang dipakai. Efisiensi itu penting, karena dengan efisiensi maka kegiatan manajemen dapat berhasil.
Kegiatan manajemen itu sendiri digunakan untuk mewujudkan tujuan atau hasil. Sedangkan untuk mencapai hal tersebut, manusia perlu menggunakan sumberdaya. Tetapi, seperti yang kita ketahui bahwa keberadaan sumber daya sendiri terbatas, sehingga perlu diperhitungkan penggunaannya dalam pekerjaan atau kegiatan. Disinilah efisiensi menjadi kontrol atau cara kerja untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan, karena efisiensi sendiri emrupakan ukuran dalam mencapai hasil.
Selain efisiensi, juga diperlukan efektivitas. Efektivitas merupakan tingkat ketercapaian antara harapan dengan tujuan. Untuk melihat apakah suatu pekerjaan itu efektif dan efisian, dapat dilakukan dengan evaluasi. Karena evaluasi sendiri berfungsi untuk melihat kesesuaian antara harapan atau perencanaan dengan tujuan.
B.     Menentukan Tingkat Efisiensi dan Efektivitas dari Suatu Cara Kerja Lembaga
Ketika suatu lembaga akan membuat kegiatan atau program kerja, pasti menggunakan manajemen, dimulai dari planning dan seterusnya. Untuk menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas dari suatu cara kerja lembaga dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah. Langkah yang pertama adalah dengan menentukan tujuan, suatu kegiatan pasti dimulai dengan perencanaan. Di dalam perencanaan, kita menentukan tujuan dan visi misi dari diselenggarakannya kegiatan. Setelah tujuan terumuskan, yang kedua adalah menentukan cara kerja. Pilih cara kerja yang tepat (efektif dan efisien) untuk mencapai tujuan/ hasil. Dengan mengetahui cara kerja, maka dapat menggunakan efisiensi dan efektivitas tadi. Efisiensi dapat dilihat dari sumber daya yang dipakai untuk mencapai hasil efisien, tentunya dengan melihat cara kerja yang ditentukan, lembaga dapat mencari sumber daya yang harus dipakai dalam setiap cara kerja yang dirumuskan. Sumberdaya yang dimaksud dapat berupa bahan, alat, dan waktu. Kemudian dengan mengetahui cara kerja pula, suatu lembaga dapat melihat keefektivitasannya, karena dengan menentukan cara kerja dapat diprediksi gambaran hasil dari cara kerja tersebut.
Ukuran efisien dalam bidang pendidikan dapat dilihat dari berbagai parameter suasana dari proses pendidikan, yakni:
o   Waktu / biaya sedikit. Makin singkat waktu yang dibutuhkan untuk proses pendidikan dan biaya sedikit maka proses pendidikan makin efisien.
o   Etos kerja yang tinggi. Etos kerja yang tinggi di kalangan pengelola pendidikan, maka proses pendidikan makin efisien.
o   Komitmen tinggi. Demikian pula komitmen yang tinggi dari pengelola pendidikan, maka kegiatan pendidikan makin baik.
o   Dipercaya banyak pihak. Yang tak kalah penting, lembaga pendidikan dikatakan efisien apabila mendapat kepercayaan dari banyak pihak.
Untuk melihat tingkat efisiensi dan efektivitas dari cara kerja tersebut, dapat dilihat dengan hasil cara kerja sebagai rujukannya. Dari hasil tersebut dilakukan penilaian terhadap cara kerja. Terdapat dua penialaian yaitu penilaian penilaian terhadap hasil apakah sudah mencapai sebagaimana diharapkan (efektif). Yang kedua adalah penilaian mengambarkan apakah cara kerja yang dilakukan dengan baik menggunakan sumberdaya seperti yang diharapkan sampai  mencapai hasil yang diharapkan (efisien). Untuk pengukuran efisiensi internal dapat melihat hasil (output) dan cara kerja, sedangkan yang internal dengan melihat outcome (masyarakat).


PENDEKATAN EKONOMIK DAN PENDEKATAN MANAJERIAL DI SUATU LEMBAGA
Riski Yuliani / 12101241041
Manajemen Pendidikan (III A)
 
 



A.    Konsep Pendekatan Ekonomik dan Pendekatan Manajerial
Salah satu upaya untuk mencapai efisiensi adalah dengan pendekatan ekonomik dan pendekatan manajerial. Pendekatan ekonomik berorientasi pada strategi mengatur atau menggunakan sumberdaya/ input dalam proses manajemen. Pendekatan ekonomik sering disebut dengan pendekatan alokatif. Cara yang dipakai dalam pendekatan ekonomik antara lain adalah realokasi input, yaitu dengan penggunaan kembali input yang bisa dipakai berulang.
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan manajerial, pendekatan manajerial berkaitan dengan proses manajemen yang dilakukan. Cara yang dilakukan dalam pendekatan manajerial adalah dengan manipulasi managemen, yaitu suatu strategi manajemen yang dilakukan atau suatu prosedur kerja yang dilakukan.
Konsep dasar dalam efisiensi ekonomik :
1.      Dalam setiap proses produksi selalu ada fixed input (input yang pasti)
2.      Suatu produk dapat dihasilkan melalui kombinasi input
3.      Suatu produk dapat dihasilkan melalui realokasi input
B.     Contoh Implementasi Pendekatan Ekonomik dan Pendekatan Manajerial
1.      Contoh pendekatan ekonomik
a.       Penggunaan buku-buku milik kakak kelas. Agar menghemat biaya serta mampu merealokasi suatu input di sekolah. Maka diberi buku –buku yang sudah lama dibeli tetapi masih bisa digunakan, tidak membeli kembali.
b.      Guru TIK menjadi teknisi. Dikarenakan kurikulum 2013 menghapus pelajaran TIK, maka guru TIK di sekolah dapat dimanfaatkan sebagai teknisi komputer, selain itu dapat pula mengajarkan guru-guru yang sudah tua untuk menggunakan TIK sebagai alat untuk mengajar. Hal ini juga dapat dimasukkan dalam pendekatan manajerial.
2.      Contoh pendekatan manajerial
a.       Ketika suatu SD direnovasi sebagian, tentunya sekolah tersebut akan mengalami kekurangan ruang kelas. Agar pembelajaran tetap berjalan, maka digunakanlah sistem pergantian kelas, dimana siswa kelas 1, 2, dan 3 masuk pada pagi hari, kemudian bergantian dengan kelas 4, 5, dan 6 yang masuk pada siang hari.
b.      Pembuatan asrama bagi mahasiswa rantau.

c.       Dalam suatu sekolah, dibangun lapangan doblefungsi untuk efisiensi. Yaitu sebuah lapangan yang dapat dimanfaatkan untuk dua bentuk atau jebis olahraga. Misalnya, lapangan basket dan lapangan futsal yang digabung menjadi satu. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya dan tempat. Walaupun demikian, sekolah tetap menyediakan lapangan serbaguna